Kembali ke Beranda
[Kajian Ekonomi & Sosial]

Pola Mata Pencaharian dan Peran UMKM dalam Ketahanan Ekonomi Desa Komba-Komba

Tim KKN-PPM UGM Muna Merona
Desa Komba-Komba, Muna
Pola Mata Pencaharian Komba-Komba
Taken by Karin Malika Putri

Desa Komba-Komba merupakan desa yang berperan sentral dalam dinamika sosial dan ekonomi di wilayah pesisir Kabupaten Muna. Terletak di kawasan pesisir Kecamatan Kabangka, desa ini memiliki karakteristik dual ekonomi yang khas, di mana sebagian besar rumah tangga menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan perkebunan sebagai mata pencaharian utama, sementara usaha mikro dalam bentuk kios dan lapak dagang menjadi penopang tambahan yang tidak kalah penting. Pemahaman mendalam terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di desa ini menjadi krusial untuk merancang program pemberdayaan yang efektif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk melakukan analisis menyeluruh terhadap pola mata pencaharian dan faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan ekonomi masyarakat Desa Komba-Komba.

Peningkatan kualitas hidup dan ketahanan ekonomi suatu desa pesisir seringkali berkaitan erat dengan struktur mata pencaharian yang dianut oleh masyarakatnya. Secara administratif, Komba-Komba terbagi menjadi dua dusun dengan karakter ekonomi yang berbeda satu sama lain. Dusun 1 yang berada di kawasan pesisir didominasi oleh nelayan dan pembudidaya rumput laut, sementara Dusun 2 yang berada lebih dekat ke daratan didominasi oleh masyarakat yang bermata pencaharian sebagai pekebun. Perbedaan karakteristik wilayah ini turut menentukan bagaimana masing-masing komunitas menyusun strategi bertahan hidup serta pola pengelolaan sumber daya rumah tangga sehari-hari.

Rumput laut merupakan komoditas strategis bagi perekonomian Kabupaten Muna, yang dikenal sebagai salah satu sentra budidaya rumput laut di Provinsi Sulawesi Tenggara dengan produksi mencapai 14.778 ton basah dan didukung oleh 5.106 rumah tangga nelayan yang tersebar di berbagai kecamatan pesisir.¹ Penelitian yang dilakukan di salah satu kecamatan sentra budidaya di Muna mencatat bahwa rata-rata pendapatan pembudidaya rumput laut berkisar antara Rp3,9 juta hingga Rp4,6 juta per bulan, bergantung pada pola budidaya yang dijalankan, baik secara kontinu maupun musiman.² Meskipun demikian, capaian pendapatan tersebut tidak terlepas dari sejumlah risiko struktural. Kajian lain di Kabupaten Muna menemukan bahwa pembudidaya rumput laut kerap dihadapkan pada kendala modal usaha yang minim serta fluktuasi harga komoditas yang cenderung menurun, dua faktor yang secara langsung memengaruhi motivasi masyarakat untuk terus menekuni usaha budidaya tersebut.³ Ketidakpastian struktural inilah yang pada gilirannya mendorong banyak rumah tangga di Komba-Komba untuk mencari sumber penghasilan tambahan di luar sektor kelautan.

Aktivitas Nelayan
Taken by Rajwaa Naufal Moedjiono

Diversifikasi Usaha & Peran Perempuan

Analisis terhadap 24 usaha mikro yang berhasil didata oleh tim KKN di Desa Komba-Komba menunjukkan pola yang cukup konsisten dalam struktur mata pencaharian masyarakat. Sebagian kios dijalankan sebagai sumber penghasilan utama, sementara sebagian lain dijalankan sebagai penopang tambahan oleh istri maupun anggota keluarga dari rumah tangga nelayan dan pekebun. Kios Rahmi misalnya, dijalankan sebagai usaha sampingan yang mendampingi pekerjaan utama suami sebagai nelayan, sedangkan Kios Nazma dan Kios Murni juga menunjukkan pola serupa, di mana pemiliknya menyebut usaha kios sebagai pemasukan tambahan di luar sektor perikanan.

Fenomena semacam ini dalam literatur akademik dikenal dengan istilah diversifikasi mata pencaharian, yaitu strategi rumah tangga nelayan untuk tidak bergantung pada satu sumber penghasilan tunggal. Sebuah kajian di Sulawesi Utara menemukan bahwa nelayan yang menjalankan usaha diversifikasi memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendapatan pada masa tidak melaut, karena tersedia sumber pendapatan alternatif yang menopang keberlangsungan hidup mereka dan keluarga.⁴ Temuan tersebut relevan dengan kondisi di Komba-Komba, mengingat pekerjaan sebagai nelayan kerap terkendala faktor cuaca dan musim, sehingga rumah tangga dituntut untuk bekerja di luar usaha nelayan secara silih berganti demi menjaga keberlangsungan hidup keluarga.

Peran perempuan menjadi variabel penting dalam pola diversifikasi ini. Sebuah studi di kawasan pesisir Kendari mencatat bahwa keterlibatan perempuan rumah tangga nelayan dalam sektor UMKM telah meningkatkan pendapatan keluarga, yang pada gilirannya memberikan dampak positif terhadap kemampuan pemenuhan kebutuhan pokok rumah tangga.⁵ Di Komba-Komba, mayoritas pemilik kios yang terdata merupakan perempuan, sebuah pola yang mencerminkan bagaimana ibu rumah tangga memegang peran ganda, yaitu mengelola urusan domestik sekaligus menjadi penyangga ekonomi keluarga pada saat hasil laut tidak menentu.

Ketergantungan Sektoral & Permodalan

Data pendataan UMKM turut memperlihatkan bahwa kendala yang dihadapi kios-kios di Komba-Komba tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kondisi sektor primer di sekitarnya. Beberapa kios, seperti Toko Muhammad Hidayat dan Kios Azizah, secara eksplisit menyatakan bahwa pendapatan harian mereka sangat dipengaruhi oleh aktivitas dan hasil tangkapan nelayan setempat, mengingat sebagian besar pelanggan mereka merupakan nelayan itu sendiri. Ketika hasil laut menurun, daya beli masyarakat turut melemah, dan dampaknya langsung dirasakan oleh kios-kios berskala kecil tersebut.

Pola saling ketergantungan semacam ini juga tercermin dalam kajian ekonomi pesisir secara lebih luas. Sebuah penelitian di Sulawesi Tenggara menegaskan bahwa pendapatan nelayan berperan strategis dalam mendorong ekonomi rumah tangga maupun komunitas pesisir secara keseluruhan,⁶ bukan hanya bagi rumah tangga nelayan itu sendiri, melainkan juga bagi seluruh rantai ekonomi mikro di sekitarnya, termasuk kios dan pedagang kecil yang menggantungkan omset pada daya beli masyarakat.

Pada aspek permodalan, kesenjangan juga tampak signifikan. Sebagian kios, seperti Kios Inayah dan Kios Firda, telah mampu memanfaatkan fasilitas pinjaman perbankan untuk menjaga stabilitas stok barang dagangan, sementara usaha lain seperti Kios Akbar harus mengalami kondisi operasional yang tidak menentu akibat keterbatasan modal untuk pengadaan stok. Kesenjangan ini sejalan dengan temuan kajian budidaya rumput laut di Muna, yang menyebutkan bahwa keberlanjutan usaha ekonomi pesisir sangat ditentukan oleh sinergi antara produksi dan pendapatan, kondisi ekonomi, pemasaran, peran lingkungan usaha, serta kebijakan pemerintah.³ Apabila salah satu dari kelima faktor tersebut timpang, dampaknya akan langsung terasa pada keberlangsungan usaha rumah tangga berskala kecil seperti kios-kios di desa ini.

Aktivitas Nelayan dan UMKM
Taken by Ikhlastyar Kalman Achmad

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa potret sosial ekonomi Desa Komba-Komba menunjukkan pola yang khas bagi desa pesisir, di mana rumah tangga tidak pernah sepenuhnya bergantung pada satu sumber penghasilan. Pada saat laut memberi hasil, kios berfungsi sebagai pelengkap. Sebaliknya, pada saat hasil laut tidak menentu, kios berperan sebagai penopang utama. Dinamika tersebut membentuk jaring ekonomi yang lentur, meskipun tetap rentan, mengingat ketika dua sumber pendapatan sama-sama melemah, misalnya pada saat musim paceklik bertepatan dengan sepinya pembeli kios, tekanan ekonomi rumah tangga dapat terasa berlipat.

Pemahaman terhadap pola ini penting, tidak hanya sebagai kepentingan dokumentasi semata, tetapi juga sebagai basis bagi perumusan program pemberdayaan masyarakat ke depan. Sejumlah kajian ekonomi pesisir merekomendasikan penguatan usaha mikro rumah tangga sebagai langkah lanjutan, baik melalui perluasan akses permodalan yang lebih merata, pelatihan pengelolaan usaha, maupun penguatan kelembagaan lokal seperti koperasi atau kelompok simpan pinjam. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memperkokoh jaring ekonomi warga Komba-Komba, tanpa harus selalu bergantung pada kemurahan hasil laut semata.


Daftar Pustaka

  1. Kabupaten Muna. Wikipedia bahasa Indonesia. Link
  2. Evaluasi Kelayakan Finansial Usaha Budidaya Rumput Laut Musiman Dan Kontinyu Di Kecamatan Pasikolaga Kabupaten Muna. PAPALELE: Jurnal Penelitian Sosial Ekonomi Perikanan dan Kelautan. Link
  3. Analisis Keberlanjutan Usaha Budidaya Rumput Laut Pada Penerima Paket Bantuan Langsung Masyarakat di Kabupaten Muna. Repository Universitas Terbuka. Link
  4. Diversifikasi Usaha Rumah Tangga Nelayan di Desa Bahoi, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal Akulturasi, Universitas Sam Ratulangi. Link
  5. Partisipasi Perempuan Rumah Tangga Nelayan dalam Sektor UMKM di Wilayah Pesisir Teluk Kendari. Jurnal Fair Value, Ikopin. Link
  6. The Influence of Fishermen's Income on The Economic Improvement of The Community in Weru Village, Paciran District, Lamongan Regency. Jurnal Sosioagribis, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Link

Asisten AI

Muna Merona 2026

Halo! Saya Asisten AI Muna Merona. Ada yang bisa saya bantu terkait program KKN atau tim kami?