Kembali ke Beranda
[Art of Kabangka]

Produktivitas Nilam di Komba-Komba: Pilar Ekonomi Lokal hingga Pengolahan Limbah Berkelanjutan

Tim KKN-PPM UGM Muna Merona 2026
Komba-Komba, Muna
Produktivitas Nilam di Komba-Komba

DESA KOMBA-KOMBA – Terletak di Kecamatan Kabangka, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Desa Komba-Komba menyajikan pemandangan geografis yang unik. Sebagian wilayahnya yang berbatasan dengan pesisir menjadikan masyarakatnya tak hanya bergantung pada laut sebagai nelayan, tetapi juga bertumpu pada pemanfaatan lahan sebagai petani. Di tengah dinamisnya pencaharian hidup masyarakat, muncul satu tanaman kecil yang bertransformasi menjadi salah satu pilar perekonomian desa yaitu tanaman nilam.

Hingga saat ini, hasil penyulingan nilam warga tidak hanya sekedar komoditas dagang saja, melainkan menjadi simbol ketahanan ekonomi dan keberlanjutan hidup sebagian besar masyarakat Komba-Komba. Sekitar 80% warga desa telah menggantungkan mata pencaharian mereka pada tanaman penghasil minyak ini.

Dari Tanaman Uji Coba Menjadi Tanaman Unggulan

Ladang Nilam

Di tengah kekosongan lahan, pemanfaatan wilayah dilakukan oleh masyarakat melalui penanaman komoditas yang dapat dipanen. Terkenalnya Desa Komba-Komba sebagai bagian percontohan nilam di Kecamatan Kabangka, bukanlah identitas yang terbentuk dalam semalam. Kehadiran tanaman ini memiliki rekam jejak panjang yang bermula dari inisiatif kepemimpinan masa lalu serta arus perpindahan warga.

Kepala Desa Komba-Komba, Bu Nur Aena, mengungkapkan bahwa keberadaan nilam sebenarnya telah berkembang pesat dan mensejahterakan warga selama kurang lebih 20 tahun terakhir. Awal mula masuknya nilam dipelopori oleh kepala desa terdahulu yang berlatar belakang Dinas Pertanian, yang membawa bibit percontohan usai mengikuti pelatihan di Kolaka.

"Awalnya masyarakat cuma satu sampai dua keluarga saja yang mencoba menanam. Namun saat ini, sekitar 80% masyarakat telah menanam nilam," jelas Bu Aena.

Selain itu, beralihnya mayoritas warga ke nilam juga didukung oleh tantangan pada komoditas lain seperti rumput laut yang belum mampu memenuhi kebutuhan harian warga secara konsisten.

Sejalan dengan hal tersebut, Pak Arman, salah satu petani nilam di desa, menambahkan bahwa gelombang migrasi dari Kolaka ke kawasan pemukiman transmigrasi (SP) sekitar tahun 2016 turut memperkuat keunggulan bibit-bibit nilam di wilayah ini. Oleh karena itu, kombinasi antara faktor historis dan dorongan ekonomi tersebut yang akhirnya mengukuhkan Desa Komba-Komba sebagai sentra nilam di Kecamatan Kabangka.

Semangat Gotong Royong, Manfaat Tradisional, dan Inovasi Bebas Limbah

Aktivitas bertani nilam di Desa Komba-Komba tidak hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga melahirkan nilai-nilai sosial kekeluargaan. Meski belum terdapat ada ritual atau budaya khusus saat panen, momen penanaman dan pemetikan daun nilam masih dilakukan bersama-sama oleh warga sekitar.

Di sisi lain, inovasi nilam tidak hanya terletak pada pemanfaatan nilai ekonominya, tetapi juga pemanfaatan dalam keseharian.

"Selain hasil penyulingan minyak nilam dimanfaatkan masyarakat untuk dijual, dalam keseharian warga juga terkadang menggunakannya sebagai obat oles luka senjata tajam seperti parang atau pisau untuk mempercepat penyembuhan."
— Bu Aena, Kepala Desa Komba-Komba
Proses Nilam

Beragamnya pemanfaatan ini menunjukkan betapa lekatnya nilam dalam kehidupan sehari-hari warga desa. Meskipun demikian, terdapat tantangan pengelolaan lingkungan yang hingga saat ini masih menjadi kendala yaitu hasil ampas proses produksi. Penumpukan sisa penyulingan nilam sebelumnya menjadi permasalahan tersendiri dikarenakan pemanfaatan yang belum bisa dilakukan secara maksimal dan meninggalkan jejak yang cukup mengganggu.

Limbah NilamInovasi Limbah

Oleh karena itu, hadirnya program Pemanfaatan Limbah Ampas Nilam sebagai Pupuk Organik menjadi salah satu langkah strategis dalam membantu menjawab permasalahan tersebut. Melalui inisiatif pemanfaatan sisa hasil penyulingan nilam menjadi pupuk kompos, limbah organik yang tadinya terbuang sia-sia, coba diolah kembali menjadi sebuah produk berdaya guna. Langkah ini tidak hanya menyelesaikan masalah ampas, tetapi juga menciptakan rantai nilai baru yang ramah lingkungan bagi seluruh petani di desa.

Tantangan Masyarakat: Dinamika Pasar dan Cuaca

Meskipun menjadi petani nilam menawarkan keuntungan yang menjanjikan, hal tersebut bukan berarti bebas dari hambatan. Pak Arman membeberkan bahwa tantangan terbesar para petani terletak pada faktor alam dan dinamika harga pasar yang sulit diprediksi.

Proses perawatan nilam sebenarnya terbilang relatif mudah. Pekerjaan rumah utama petani adalah membersihkan rumput liar (gulma) di sekitar tanaman agar tidak mengganggu proses pertumbuhan. Namun, ketika musim kemarau tiba, ancaman gagal panen meningkat drastis. Untuk menanggulanginya, petani harus menyiapkan cadangan air khusus untuk penyiraman berkala. Namun, hal ini juga tidak menjadi pilihan utama. Umumnya para petani memilih untuk mengurangi biaya tambahan (air cadangan) sehingga tidak menambah pengeluaran lainnya.

"Harga nilam sangat bervariasi dan naik turun, baik harian maupun mingguan. Bulan Juli tahun lalu harganya sempat mencapai Rp2,3 juta per kilogram, namun pernah juga turun hingga Rp 900ribu per kilogram."
— Pak Arman, Petani Nilam Desa Komba-Komba

Fluktuasi harga yang tajam ini menyaratkan fleksibilitas bagi para petani. Karena pembeli menerapkan patokan harga yang berbeda-beda, petani di Komba-Komba cenderung menjual hasil minyak nilam mereka kepada pengepul atau pembeli yang bersedia memberikan penawaran harga tertinggi. Jangkauan distribusinya pun cukup luas, tidak terbatas di Kecamatan Kabangka atau Kabupaten Muna saja, melainkan melebar hingga ke berbagai wilayah di Sulawesi Tenggara maupun sekitarnya.

Proses Nilam

Selain dari penjualan minyak, rantai ekonomi nilam di desa Komba-Komba juga diperkuat oleh pemilik alat penyulingan yang menyewakan fasilitasnya kepada petani lain. Hal ini memberikan pasokan pendapatan ganda (double income) baik sebagai petani nilam maupun pemilik alat.

Dari sisi teknis pascapanen, masa petik nilam cukup bervariasi antara 5 bulan, 7–8 bulan, hingga paling lama 1 tahun. Menurut para pembeli, umur panen berpengaruh pada kualitas di mana kisaran usia tanaman 7–8 bulan cenderung menurunkan kadar minyak, tetapi di sisi lain memberikan tingkat pH yang lebih baik. Meskipun begitu, sebagian besar transaksi saat ini tidak lagi menguji kadar pH secara mendalam sehingga minyak nilam tetap diminati di pasar sebagai bahan baku utama kosmetik, parfum, dan industri wewangian lainnya.

Masa Depan Nilam di Desa Komba-Komba: Peran Generasi Muda

Generasi Muda Nilam

Salah satu fenomena menarik di Desa Komba-Komba adalah tingginya keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian nilam. Berbeda dengan citra pertanian yang umumnya kerap digerakkan oleh para orang tua, bisnis nilam di desa ini menarik minat para anak muda desa untuk mempertahankan kebiasaan tersebut.

Bu Aena menegaskan bahwa menanam nilam dapat dilakukan oleh siapa saja yang memiliki kemauan dan keterampilan. Generasi muda di Komba-Komba memanfaatkan lahan orang tua mereka untuk bercocok tanam. Dengan fisik yang prima dan ketangkasan yang tinggi, para pemuda ini justru tampil lebih lincah dan produktif dalam mengelola kebun nilam.

Keterlibatan aktif anak muda ini menjadi modal sosial yang sangat berharga bagi masa depan Desa Komba-Komba. Oleh karena itu, dengan kolaborasi antara semangat para generasi muda dan pengalaman para petani nilam, maka inovasi dan kelola produktivitas nilam di Komba-Komba akan terus berlanjut.

Asisten AI

Muna Merona 2026

Halo! Saya Asisten AI Muna Merona. Ada yang bisa saya bantu terkait program KKN atau tim kami?